ummu_hanief @ south jakarta-jundi kecil yang maniezzz
|
 |
Mar 25, 2009
Menulis itu gampang, tapi juga tidak mudah…
Menulis itu sebenarnya pekerjaan atau kegiatan yang susah-susah gampang. Kata Bang Jonru sih emang mudah, tapi bagi sebagian orang mungkin sedikit tidak mudah. [bahasanya berbeli-belit ya..:)].
Ketika sedang melihat sesuatu kadang langsung terbersit ide muncul untuk menuangkan dalam sebuah karya berupa tulisan. Tapi begitu sudah berjeda oleh waktu kok idenya terbang melayang ya…, itulah kenapa, seingat saya, pernah baca bukunya Ustadz Faudzil (judulnya lupa) ketika ada ide harus langsung dituangkan. Jika tidak maka kita akan segera lupa ole hide-ide yang baru saja menggelayut di benak kita. Makannya disarankan juga oleh Ustadz Faudzil, jika kemana-mana bawalah selalu buku atau sejenisnya dan pena tentunya untuk menuliskan segala sesuatu yang terbersit jika kita sedang melakukan perjalanan atau sebuah kegiatan. Baik yang kita lihat maupun kita rasakan.
Nah, di sinilah kesulitan saya untuk segera menuliskan ide-ide tersebut. Setelah jundi kecil hadir di keluarga kami, sebenarnya ide-ide tulisan sering kali tiba-tiba muncul ketika menyaksikan tumbuh kembangnya dan polah tingkah jundi kecil kami. Tapi untuk segera menuliskannya masih kesulitan, kenapa? Karena tidak mungkin saya langsung meninggalakan acara bermain dengan si kecil. Bagi saya ini bukan sebuah hambatan untuk menulis ketika si kecil hadir, tapi belum adanya penyesuaian saja sepertinya. Semoga ada percepatan dalam penyesuaian tersebut, karena saya ingin segera membuahkan sebuah karya berupa tulisan.
Face book (FB) yang semulanya saya malas untuk register dan rajin membukanya karena saya pikir tidak ada manfaatnya ternyata itu tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Dari membaca tulisan ikhwah di FB saya kemudian terpacu lagi untuk rajin membaca, dan menulis, kemudian terbersit juga ide untuk bisnis by internet. Kemudian saya diskusikan dengan suami, akhirnya bismillaah. Semua jika diniatkan untuk mencari maslahat insya Alloh tetap tidak sia-sia.
Satu yang terlupa, untuk menulis kita harus rajin membaca itu kuncinya. Darimana kita akan menuangkan sebuah ide jika tidak ada yang kita punya, meski ide itu muncul dari sebuah pengamatan namun tetap saja , sepertinya, kita membutuhkan referensi sebuah bacaan. Meski tidak harus diambil sebagai sumber, setidaknya dari membaca akan muncul sebuah wacana baru sebagai bagian dari tulisan kita.
Alhamdulillah, tidak terasa saya sudah menulis untuk hari ini meski hanya sekian alenia. Tapi saya bersyukur Alloh telah memudahkan saya untuk menuangkan apa-apa yang ada dalam pikiran saya. Mudah-mudahan ini adalah awal yang baik bagi saya untuk selalu menulis dan menulis, sehingga saya bisa menghasilkan sebuah karya berupa tulisan, yang tentu saja saya berharap dengan tulisan saya tersebut bisa bermanfaat bagi ummat dan dalam rangka dakwah bil haq…
Akhirnya, Alhamdulillah. Atas kemurahanMu ya Alloh …telah memudahkan jari-jari ini untuk menekan tuts2 keyboard PC sehingga ada sebuah tulisan ini. Thanks to my husband. Thanks to my little jundi. Kalian adalah inspirasi terindahku. Luv u so much.
Backsound by IZIS “barisan jihad”
Posted at 10:52 am by ummu_hanief
Permalink
Feb 27, 2009
Penyusun: Ummu Hajar
Saudariku, tahukah kalian bahwa penyakit itu ada dua macam, penyakit hati dan penyakit jasmani? Kedua penyakit itu disebutkan dalam Al-Qur’an. Klasifikasi jenis penyakit ini mengandung hikmah ilahi dan kemukjizatan yang hanya bisa dicapai oleh kalangan medis di pertengahan abad ke-18. Sesungguhnya iman kepada Allah dan para Rasul, yaitu aqidah yang tertanam dalam hati, merupakan solusi pengobatan yang terpenting bagi hati, yakni bagi penyakit jiwa. Sedangkan untuk penyakit jasmani, kita bisa menengok metode pengobatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Istilah Thibbun Nabawi dimunculkan oleh para dokter muslim sekitar abad ke-13 M untuk menunjukkan ilmu-ilmu kedokteran yang berada dalam bingkai keimanan pada Allah, sehingga terjaga dari kesyirikan, takhayul dan khurofat.
1. Habbatus Sauda’ atau Jinten Hitam atau Syuwainiz
Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. bahwa ia pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: “Sungguh dalam habbatus sauda’ itu terdapat penyembuh segala penyakit, kecuali as-sam.” Saya bertanya, “Apakah as-sam itu?” Beliau menjawab, “Kematian”. Habbatus sauda’ berkhasiat mengobati segala jenis penyakit dingin, bisa juga membantu kesembuhan berbagai penyakit panas karena faktor temporal. Biji habbatus sauda’ mengandung 40% minyak takasiri dan 1,4% minyak atsiri, 15 jenis asam amino, protein, Ca, Fe, Na dan K. kandungan aktifnya thymoquinone (TQ), dithymouinone (DTQ), thymohydroquimone (THQ) dan thymol (THY). Telah terbukti dari berbagai hasil penelitian ilmiah bahwa habbatus sauda’ mengaktifkan kekebalan spesifik/kekebalan didapat, karena ia meningkatkan kadar sel-sel T pembantu, sel-sel T penekan, dan sel-sel pembunuh alami. Beberapa resep penggunaan dan manfaat habbatus sauda’:
- Ditumbuk, dibuat adonan dangan campuran madu, kemudian diminum setelah dicampur air panas, diminum rutin berhari-hari: menghancurkan batu ginjal dan batu kandung kencing, memperlancar air seni, haid dan ASI.
- Diadon dengan air tepung basah atau tepung yang sudah dimasak, mampu mengeluarkan cacing dengan lebih kuat.
- Minum minyaknya kira-kira sesendok dicampur air untuk menghilangkan sesak napas dan sejenisnya.
- Dimasak dengan cuka dan dipakai berkumur-kumur untuk mengobati sakit gigi karena kedinginan.
- Digunakan sebagai pembalut dicampur cuka untuk mengatasi jerawat dan kudis bernanah.
- Ditumbuk halus, setiap hari dibalurkan ke luka gigitan anjing gila sebagian dua atau tiga kali oles, lalu dibersihkan dengan air.
Untuk konsumsi rutin menjaga kesehatan, sebaiknya dua sendok saja. Sebagian kalangan medis menyatakan bahwa terlalu banyak mengkonsumsinya bisa mematikan.
2. Madu atau ‘Asl
“Dari perut lebah itu keluar cairan dengan berbagai warna, di dalamnya terdapat kesembuhan bagi manusia.” (QS. An-Nahl: 69)
Beberapa hasil penelitian tentang madu:
a. Bakteri tidak mampu melawan madu
Dianjurkan memakai madu untuk mengobati luka bakar. Madu memiliki spesifikasi anti proses peradangan (inflammatory activity anti)
b. Madu kaya kandungan antioksidan
Antioksidan fenolat dalam madu memiliki daya aktif tinggi serta bisa meningkatkan perlawanan tubuh terhadap tekanan oksidasi (oxidative stress)
c. Madu dan kesehatan mulut
Bila digunakan untuk bersikat gigi bisa memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi, mengobati sariawan dan gangguan mulut lain.
d. Madu dan kulit kepala
Dengan menggunakan cairan madu berkadar 90% (madu dicampur air hangat) dua hari sekali di bagian-bagian yang terinfeksi di kepala dan wajah diurut pelan-pelan selama 2-3 menit, madu dapat membunuh kutu, menghilangkan ketombe, memanjangkan rambut, memperindah dan melembutkannya serta menyembuhkan penyakit kulit kepala.
e. Madu dan pengobatan kencing manis
Madu mampu menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes karena adanya unsure antioksidan yang menjadikan asimilasi gula lebih mudah di dalam darah sehingga kadar gula tersebut tidak terlihat tinggi. Madu nutrisi kaya vitamin B1, B5, dan C dimana para penderita diabetes sangat membutuhkan vitamin-vitamin ini. Sesendok kecil madu alami murni akan menambah cepat dan besar kandungan gula dalam darah, sehingga akan menstimulasi sel-sel pankreas untuk memproduksi insulin. Sebaiknya penderita diabetes melakukan analisis darah dahulu untuk menentukan takaran yang diperbolehkan untuknya di bawah pengawasan dokter.
f. Madu mencegah terjadinya radang usus besar (colitis), maag dan tukak lambung
Madu berperan baik melindungi kolon dari luka-luka yang biasa ditimbulkan oleh asam asetat dan membantu pengobatan infeksi lambung (maag). Pada kadar 20% madu mampu melemahkan bakteri pylori penyebab tukak lambung di piring percobaan.
g. Selain itu madu amat bergizi, melembutkan sistem alami tubuh, menghilangkan rasa obat yang tidak enak, membersihkan liver, memperlancar buang air kecil, cocok untuk mengobati batuk berdahak. Buah-buahan yang direndam dalam madu bisa bertahan sampai enam bulan.
Madu terbaik adalah yang paling jernih, putih dan tidak tajam serta yang paling manis. Madu yang diambil dari daerah gunung dan pepohonan liar memiliki keutamaan tersendiri daripada yang diambil dari sarang biasa, dan itu tergantung pada tempat para lebah berburu makanannya.
3. Minyak Zaitun
“Konsumsilah minyak zaitun dan gunakan sebagai minyak rambut, karena minyak zaitun dibuat dari pohon yang penuh berkah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Fungsi minyak zaitun:
- Mengurangi kolesterol berbahaya tanpa mengurangi kandungan kolesterol yang bermanfaat.
- Mengurangi risiko penyumbatan (trombosis) dan penebalan (ateriosklerosis) pembuluh darah.
- Mengurangi pemakaian obat-obatan penurun tekanan darah tinggi.
- Mengurangi serangan kanker.
- Melindungi dari serangan kanker payudara. Sesendok makan minyak zaitun setiap hari mengurangi risiko kanker payudara sampai pada kadar 45%.
- Menurunkan risiko kanker rahim sampai 26%.
- Pengkonsumsian buah-buahan, sayuran, dan minyak zaitun memiliki peran penting dalam melindungi tubuh dari kanker kolon.
- Penggunaan minyak zaitun sebagai krim kulit setelah berenang melindungi terjadinya kanker kulit (melanoma)
- Berpengaruh positif melindungi tubuh dari kanker lambung dan mengurangi risiko tukak lambung.
- Mengandung lemak terbaik yang seharusnya dikonsumsi manusia seperti yang terdapat dalam ASI.
- Penggunaan sebagai minyak rambut mampu membunuh kutu dalam waktu beberapa jam saja.
Setiap penyakit itu ada obatnya, seperti hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya: “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia menurunkan obatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Setiap kali Allah menurunkan penyakit, Allah pasti menurunkan penyembuhnya. Hanya ada orang yang mengetahuinya dan ada yang tidak mengetahuinya. Jauh sebelum ilmu pengetahuan berkembang pesat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengetahui dan menerapkan pengobatan yang terbukti kemanjurannya.
Maraji:
- Keajaiban Thibbun Nabawi, Aiman bin ‘Abdul Fattah
- Metode Pengobatan Nabi SAW, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
***
taken from --> www.muslimah.or.id
Posted at 10:51 pm by ummu_hanief
Permalink
MEMBUKA USAHA SAMPINGAN (2)
Pada nomor yang lalu saya telah membahas tentang perlunya Anda menambah pendapatan dengan membuka sebuah usaha sampingan. Kali ini, kita akan membahas tentang apa yang perlu Anda perhatikan bila ingin membuka usaha sampingan.
1. BIDANG USAHA
Tentukan lebih dulu, bidang usaha macam apa yang ingin Anda jalankan. Apakah Anda ingin menjalankan usaha rumah makan kecil? Apakah Anda ingin membuka usaha jahitan? Atau Anda tertarik untuk membuka toko kelontong kecil? Bisa juga Anda membuka usaha jasa pembuatan kue-kue atau minuman (siapa tahu Anda bisa seperti Ibu Nila Chandra atau Pak Sukyanto). Bagaimana dengan usaha pernik-pernik/suvenir? Anda bisa membuka toko kecil yang menjual pernik-pernik lucu seperti gelas-gelas lucu atau semacamnya. Pada prinsipnya, semua bidang usaha tersebut bisa dibagi menjadi:
Bidang Usaha yang masih jarang atau belum ada yang memulai.
Beberapa dari Anda mungkin ragu bila ingin memulai bidang usaha yang belum ada atau masih jarang dilakukan. Tapi itu bukan berarti Anda tidak akan sukses. Tengok Aqua. Ketika pertama kali diperkenalkan, banyak orang ragu apakah Aqua bisa berhasil di pasaran, padahal belum pernah sebelumnya ada pengusaha yang menjual air minum dalam botol. Bahkan pada awalnya banyak yang mencibir: apa ada orang yang mau membeli air dengan harga lebih mahal dari bensin? Apalagi kita bisa memasak air minum sendiri di rumah.
Nyatanya Aqua sukses besar. Salah buktinya sekarang ini terus saja bermunculan merek air minum dalam kemasan yang lainnya. Suatu kali saya pernah datang ke sebuah restoran dan memesan air minum di restoran. Saya tanya pada pelayannya, "Ada Aqua, enggak?" Pelayan restoran langsung menjawab: "Aqua yang merek apa, Pak?" Kesimpulan-nya, memulai jenis usaha yang masih langka atau baru sama sekali bukanlah hal yang tabu. Sudah banyak contoh yang berhasil.
Bidang usaha yang sudah banyak dilakukan
Bisa juga Anda memulai Bidang Usaha yang sudah banyak dilakukan. Kalau tadi banyak orang ragu untuk memulai bidang usaha yang baru, tapi di lain pihak banyak juga orang yang ragu untuk memulai bidang usaha yang sudah banyak dijalankan. Sebagai contoh, banyak ibu rumah tangga yang ragu untuk membuka usaha jahitan, karena di sekitarnya sudah banyak yang melakukannya.
S ebenarnya, biarpun usaha jahitan Anda baru berdiri, tapi kalau mempunyai kelebihan atau ciri khas dibanding pesaing Anda, selalu ada peluang untuk berhasil. Belum lagi faktor pelayanan yang baik, maka usaha Anda walaupun sudah banyak saingan yang lebih dulu berdiri tetap bisa berhasil.
2. LOKASI
Di mana Anda ingin membuka lokasi usaha Anda? Di rumah sendiri? Atau Anda ingin menyewa sebuah tempat kecil di pinggir jalan? Atau Anda ingin menyewa sebuah ruko?
Jangan lupa bahwa dalam beberapa jenis bidang usaha, lokasi memegang peranan yang cukup penting. Sebagai contoh, Anda mungkin memutuskan untuk membuka usaha penjualan lumpia. Nah, Anda bisa menyewa sebuah stan kecil di pertokoan dan menjual lumpia Anda di situ. Di sini, Anda sendirilah yang harus menentukan lokasi mana yang tepat dalam usaha Anda.
Atau Anda ingin membuka sebuah warung yang menjual segala kebutuhan sehari-hari seperti deterjen, sabun, beras, rokok, dan lain-lain. Anda bisa membuka warung seperti ini di rumah Anda. Sudah banyak contoh warung yang didirikan di rumah-rumah dan cukup laris.
3. PELANGGAN
Bagaimana Anda mendapatkan pembeli barang dagangan Anda? Atau bila itu usaha jasa, bagaimana cara Anda akan mendapatkan klien? Apakah Anda akan memulainya dengan mempromosikannya dari mulut ke mulut? Ataukah Anda akan membuat brosur dan menyebarkannya dari rumah ke rumah?
Beberapa orang yang saya kenal mempromosikan usahanya dengan memasang plang di depan tempat usahanya. Ada juga yang mempromosikan usahanya dengan memasang iklan kecil di koran. Atau, kenapa Anda tidak mencoba memasang iklan Anda di iklan mungil NOVA?
Yang terpenting di sini adalah Anda sudah harus tahu terlebih dahulu tentang bagaimana cara Anda dalam mendapatkan pembeli atau klien dari usaha Anda. Bila tak ada pembeli, tak akan ada penjualan. Bila tak ada penjualan, maka usaha Anda tidak cukup berhasil. Sederhana sekali.
4. TENAGA KERJA
Berapa orang yang akan Anda pekerjakan? Apakah hanya Anda sendiri yang bekerja di situ? Apakah Anda juga mempekerjakan sejumlah orang dalam usaha Anda? Mungkin ada baiknya kalau Anda mulai dengan jumlah tenaga kerja yang sedikit lebih dahulu. Nanti bila usaha Anda makin berkembang, Anda mungkin akan membutuhkan sejumlah tambahan orang yang bisa Anda pekerjakan.
Ada bagusnya bila Anda juga mempekerjakan anggota keluarga Anda. Seperti anak Anda (bila mereka sudah cukup umur tentunya), atau mungkin suami Anda. Dengan mempekerjakan mereka, maka secara tidak langsung mereka juga akan mempunyai rasa ikut memiliki dalam usaha tersebut. Dengan adanya rasa memiliki dari para anggota keluarga, maka dukungan yang diberikan kepada Anda untuk menjalankan usaha tersebut bisa makin besar.
5. PERENCANAAN KEUANGAN
Banyak usaha yang bangkrut karena kehabisan uang tunai. Karena itu penting sekali bagi Anda untuk memperhitungkan jumlah modal awal yang sebaiknya Anda miliki untuk bisa menjalankan usaha Anda. Alangkah baiknya apabila modal tersebut bisa mencukupi untuk membayar pengeluaran perusahaan selama duabelas bulan ke depan. Selain modal awal, apa yang harus Anda lakukan adalah dengan membuat Perkiraan arus kas selama 12 bulan ke depan. Perkiraan arus kas adalah perhitungan yang menggambarkan berapa perkiraan arus keluar masuk uang tunai dalam usaha Anda. Sama seperti modal, maka alangkah baiknya kalau Anda memiliki perkiraan arus kas selama 12 bulan ke depan. Dengan demikian, dalam setahun ke depan, usaha Anda diharapkan tidak akan bangkrut hanya gara-gara kehabisan uang tunai.
Di samping hal-hal di atas, ada hal-hal lain yang perlu Anda perhatikan sehubungan dengan gaya berdagang Anda. Memang ada pepatah yang mengatakan bahwa orang baik bahagia hidupnya. Tapi dalam bidang usaha, terlalu baik hati bisa menciptakan sejumlah hambatan. Dan memang banyak pemilik usaha kecil yang terlalu "baik" dalam menjalankan usahanya, seperti:
Mereka terlalu mengalah terhadap partner atau langganannya
* Mereka menetapkan harga yang pas-pasan saja atas produk dan jasa yang dijualnya * Mereka terlalu baik hati dan kurang tegas terhadap bawahannya * Mereka merasa ada sesuatu yang salah, kotor atau tak bermoral kalau mereka mendapatkan uang, keuntungan atau kesempatan
Karena itu, hindari hal-hal seperti itu. Pengusaha yang baik tidak berlaku baik, tetapi berlaku adil. Adil terhadap partner atau pelanggannya, adil terhadap harga barang dan jasa yang dijualnya, adil terhadap bawahannya, dan tentu saja adil terhadap dirinya sendiri.
Dikutip dari Tabloid NOVA No. 676/XIII
Posted at 10:44 pm by ummu_hanief
Permalink

Lagi-lagi topiknya tentang VMJ. Emang ada apa dengan VMJ?? Ga kenapa2 soalnya dia ga ada apa2nya… ah, andai saja emang ga ada. Lho… Jadi? Kok, ga jelas gini? Saya akan bercerita berpenggal-penggal cerita yang tak penuh dan kalimat2nya udah diubah redaksinya untuk akhirnya kita kaji bersama tentang cinta lawan jenis. CERITA POPULER SATU (Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra) “Sebenarnya dulu… sebelum aku menikah denganmu, aku telah menyukai seorang pria,” aku seorang istri kepada suaminya. Terang saja suaminya agak marah karena cemburu, tapi sambil memendam emosinya dia merespon, “Kalau begitu, alangkah tidak beruntungnya kamu menikah denganku, bukan dengannya… ” Sambil tersenyum karena senang melihat gelagat suaminya itu sang istri menjawab, “Bagaimana mungkin aku tidak beruntung? Kamulah orang itu, Suamiku…” CERITA POPULER DUA (kisah Umar bin Khatthab) Suatu saat aku akan mengadu kepada khalifah Umar tentang perilaku istriku yang sering marah2 kepadaku, maka aku pun datang ke rumahnya. Ternyata di sana aku mendengar sang khalifah sedang dimarahi istrinya dengan suara keras melebihi suara istriku kepadaku saat marah. Aku pun bertanya, “Mengapa engkau diam saja ketika istrimu berbuat seperti itu kepadamu?” tanyaku. Dia pun menjawab, “Istriku adalah selimutku, dia adalah ibu bagi anak-anakku, dan dia pengurus rumah tanggaku, mengapa aku harus marah kepadanya? Karena itu, kubiarkan dia memarahiku…” CERITA POPULER TIGA (kisah Zainab Al-Ghazaly dalam perjuangan wanita IM) Sungguh saat aku masih di penjara buruk itu aku telah merelakan suamiku untuk menikah lagi bahkan jika dia ingin menceraikanku. Aku telah membuatnya susah dan menderita. Hartanya telah banyak disita karena dituduh ikut mendanai ikhwanul muslimin. Padahal dia bukan salah satu anggotanya pun. Aku mendengar kabar bahwa dia telah diminta untuk menceraikanku, tapi dia tetap mempertahankanku sampai akhirnya kudengar kabar kematiannya saat aku masih di dalam bui. Semalaman aku menangis karena baktiku kepadanya terhalang selama hampir setahun lebih kami dipisahkan. Seakan aku mendengar kalimatnya, “Sungguh, aku takkan pernah menceraikannya…” ======================================================================= CERITA-CERITA di atas adalah sepenggal kisah nyata yang akan kita kaji. Akhwat naksir ikhwan? Ikhwan naksir akhwat? Oh, ternyata tidak ada larangannya perasaan yang timbul dari ketidaksengajaan… maksudnya?? Yang namanya perasaan suka itu uncontrolled, Sobat! Kalau DIA sudah menganugerahkannya, ya syukurilah, “Alhamdulillah saya normal…” and then, STOP!--Nah di sini yang harus digaris bawahi...!!! jangan bilang ma siapa2 dan jangan ngambil tindakan apa2 untuk menyuburkannya mendekatlah kepadaNya, isi rongga itu hanya untuk sebuah nama: namaNya Dari kisah Ali dan Fatimah memperlihatkan kalau rasa itu juga menimpa sahabat dan sahabiyah di zaman Rasulullah saw. Bahkan Rasulullah menolak setiap orang yang melamar puterinya sampai Ali datang. Apa kelebihan Ali dibanding sahabat yang lain? Para sahabat yang datang itu ga kalah shalih lho… sahabat yang lain bahkan kaya raya lho. Lalu? Ternyata Rasulullah saw tahu bahwa puterinya menyukai ikhwan itu Nah, kalau emang udah siap mengambil amanah, ingatlah bahwa dalam perjalanannya akan banyak terjalannya. Meskipun cerai tidak diharamkan, tapi ternyata Allah tidak menyukai jalan itu. Maka, bersabarlah seperti Umar dan banyaklah saling pengertian… Kalau sebuah pernikahan hanya dilandasi cinta, yakin deh, saat cinta itu luntur dan ternyata ada cinta lain yang datang, maka cinta yang luntur itu akan hancur. Berharaplah ridhaNya, berkomitmen, dan bangun sebuah cinta yang karena Allah… dimana salah satunya saling memeberikan satu demi satu tangga sampai panjatan keduanya mencapai jannah yang tertinggi dan memperoleh singgasana cahaya. Saat cinta itu bahkan diuji di jalan da’wah, maka cinta takkan lekang oleh waktu dan jarak. Terbawa hingga jannahNya. Mahar yang luar biasa!! Seperti yang dilakukan sang suami kepada Zainab Al-Ghazaly. Dia yakin bahwa jalan istrinya adalah benar. Dia tak ingin melepasnya meskipun tuntutan mengizinkan (agak dipaksa untuk menandatangani surat cerai). Dia ingin ikatan itulah yang membuatnya ikut bersama sang istri ke jannahNya. Subhanallah… Bagi antum (antum itu jamak ikhwan akhwat meskipun tanpa antunna, ya) yang sedang melakukan hubungan tak jelas, apa antum tidak mau mendapatkan seorang “dia” yang luar biasa dan istimewa di sisiNya?? apa antum ingin da’wah ikut ternoda bersamanya?? apa antum tidak kasihan kepada orang yang akan Dia takdirkan untuk antum?? Ya, sekarang terserah antum! Jangan salahkan kami jika suatu hari nanti (entah di dunia maupun di akhirat), antum berargumen “tidak ada yang mengingatkan saya…” –taken from àwww.dokterislam.blogspot.com
*Harusnya begini ketika saudara kita terpedaya karenanya (VMJ)
Posted at 10:07 pm by ummu_hanief
Permalink
Feb 13, 2009
” Upaya mengembalikan fungsi rumah sebagai wahana tarbiyah Islamiyyah sebagaimana diamalkan Salaful Ummah”
Oleh : Abu Muhammad Ade Abdurrahman
Home-Schooling secara harfiah berarti : bersekolah di rumah.
Home-Schooling diselenggarakan ketika orangtua berkeberatan atau merasa kesulitan menyekolahkan anaknya, baik karena alasan jarak (karena tinggal di pedalaman, misalnya) ataupun karena alasan-alasan tertentu lainnya.
Mengapa disebut Home-Schooling (bersekolah di rumah), bukan Home-Learning (belajar di rumah) ? Padahal istilah yang kedua sebenarnya lebih tepat. Barangkali ini adalah bias budaya. Kita maklum, saat ini bersekolah merupakan tradisi yang sudah sedemikian merata. Hingga kemudian dianggap suatu kelaziman, atau bahkan keharusan bagi anak-anak.
Karena itu, ketika seseorang mencoba untuk tidak menyekolahkan anaknya maka dia khawatir akan dianggap telah melakukan ‘pelanggaran terhadap hak asasi anak’.
Untuk itulah, barangkali, para orangtua yang menyelenggarakan pembelajaran anak-anak mereka di rumah seakan hendak ‘membela diri’, bahwa merekapun sebenarnya menyekolahkan anak-anak mereka juga. Hanya berbeda lingkungan dan metodenya. Itulah, mengapa kemudian disebut Home-Schooling. Untungnya, dalam hal ini pemerintah tidak salah kaprah sehingga menetapkan kebijakan : wajib belajar. Dan tidak menetapkan wajib bersekolah.
Substansi dari bersekolah (schooling) sebenarnya adalah belajar (learning). Belajar dapat dilakukan di manapun. Bersekolah hanyalah salah satu cara untuk belajar. Jadi, para orangtua tak perlu merasa bersalah atau rendah diri dengan menjalankan Home-Schooling. Juga, mereka yang menyekolahkan anaknya ke sekolah massal pun jangan dulu berbangga hati.
Sebab, kalau kita mau lebih menukik pada kedalaman realitas, kita patut mempertanyakan : Apakah benar bersekolah itu otomatis sama dengan belajar ? Jawabannya : Belum tentu !
Mari kita pelajari faktanya ! Saat ini, berapa puluh juta lulusan sekolah menengah atas dan perguruan tinggi ? Di sisi lain, berapa puluh juta pula yang berstatus pengangguran ? Padahal, betapa besar karunia Allah berupa kekayaan alam di negeri ini. [1] Apa yang mereka pelajari di sekolah ? Inilah salah satu fakta bahwa belajar di sekolah belum tentu efektif. Dengan kata lain bersekolah belum tentu berarti belajar.
Dalam banyak kasus, bersekolah bahkan menjadi penyebab kegagalan hidup seorang anak. Tidak sedikit anak yang terjerumus kepada hal-hal negatif yang menghancurkan hidup mereka, justeru mereka dapatkan lewat pergaulan di sekolah, baik dari (oknum) guru-guru mereka atau dari (oknum) kawan-kawan mereka.
Tanpa perlu penelitian mendalam, banyak yang menilai bahwa metode pembelajaran dan sistem evaluasi yang sekarang berjalan pun cenderung menciptakan mental-block (hambatan mental) yang menghambat laju kreatifitas anak, padahal justeru hal itu amat dibutuhkan di era informasi global saat ini.
Sekiranya otak anak terus menerus hanya dijadikan keranjang informasi iptek (itupun hanya sebatas untuk keperluan menyelesaikan soal-soal ujian). Maka dapat dibayangkan, betapa akan kesusahannya dia mengejar laju pertambahan informasi iptek yang terus berkembang dalam hitungan jam, atau bahkan menit.
Mengapa tidak terpikirkan oleh kita - para orangtua - untuk melatih dan mengasah otak mereka yang ajaib itu agar mampu memola ulang informasi tersebut, sehingga akhirnya mereka mampu menciptakan informasi baru ?
Merangsang anak untuk bertanya ‘Apa .?’ , ‘Mengapa . ?’ dan ‘Bagaimana. ?’ adalah hal yang penting sekali. Keingintahuan adalah tabiat dasar mereka.
Namun di samping itu, kita pun perlu merangsang anak untuk bertanya : ‘Mengapa tidak .?’ dan ‘Bagaimana jika .?’. Agar mereka menjadi insan-insan kreatif. Jangan keliru, kreatifitas pun sebenarnya adalah bakat alamiah setiap anak, jika saja para orangtua tidak malas mengasahnya. Atau, malah menyia-siakannya.
Sayang sekali, keingintahuan (curiosity) dan kreatifitas (creativity) - dua mutiara terpendam dalam jiwa anak - saat ini justeru banyak ditelantarkan di sekolah massal (formal). Wajar kalau Robert T. Kiyosaki berteriak lantang : “If You Want To Be Rich And Happy, Don’t Go To School !”.
Ada alasan lain : “Keunikan”. Anak itu unik! Cara belajar mereka juga unik, seunik sidik jari mereka; yakni masing-masing anak secara individual memiliki pembawaan dan cara yang khas dalam menyerap serta menggali pengetahuan. Jadi, bagaimana mungkin anak-anak dapat menemukan cara belajar mereka yang unik, jika mereka dituntut harus “berseragam” di sekolah ?
Berdasarkan penelitian [2] bahwa seseorang menjadi jenius adalah pada saat dia mampu menemukan sendiri cara belajarnya yang unik dan orisinil. [3] Seperti dikatakan Enstein : “Saya tidak memiliki bakat-bakat khusus, tetapi hanya memiliki rasa keingintahuan yang besar sekali.”.
Keingintahuan yang sangat besar - dilandasi keikhlasan - jugalah nampaknya yang membuat Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah mampu bersabar duduk berjam-jam lamanya di sudut sepi perpustakaan. Beliau lakukan itu berpuluh-puluh tahun lamanya hingga akhirnya menjadi jenius di bidang hadits dan ilmu-ilmu syar’i lainnya. Menjadi mujaddid abad ini sebagaimana diakui ulama besar yang sezaman dengan beliau, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah.
Namun, agar tidak memunculkan kontroversi yang sia-sia, perlu ditegaskan di sini bahwa :
· Menyelenggarakan home-schooling tidak berarti hendak mengingkari atau menggugat profesi keguruan.
· Menyelenggarakan home-schooling tidak berarti hendak mengingkari atau menggugat peran sekolah formal yang sudah ada dan banyak memberikan kontribusi kepada masyarakat.
· Kami pun tidak mengklaim bahwa : Home-schooling adalah satu-satunya cara untuk mendidik Anak.
Tetapi . yang kami yakini :
- Home-Schooling adalah : Sarana paling efektif dalam upaya membangun hubungan baik dan hangat dengan Anak. Mendampinginya saat ia menjalani hari-harinya untuk terus tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa.
- Home-Schooling adalah : Alternatif terbaik dalam mendidik Anak, memelihara fithrahnya serta mengembangkan potensinya yang unik. Karena berpijak pada orisinalitas dan individualitasnya sebagai hamba Allah.
- Home-Schooling adalah : Sebuah kesempatan emas (furshoh dzahabiyyah) untuk menunaikan secara optimal peran dan tugas keorangtuaan yang nanti akan dituntut pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
- Home-Schooling adalah : Sebuah kesempatan emas (furshoh dzahabiyyah) untuk mengembangkan potensi orangtua dan anak dalam hal penguasaan ilmu syar’i, memperbaiki akhlaq diri, membina keluarga sakinah, mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisai, bahkan mengembangkan potensi ekonomi.
ISLAMIC HOME-SCHOOLING
Islamic Home-Schooling (Selanjutnya akan disingkat IHS) adalah Home-Schooling yang diselenggarakan bertitik tolak dari pertimbangan syar’i, yakni kewajiban orangtua untuk mengasuh dan mendidik anak, serta dijalankan dengan mengikuti tuntunan AlQuran dan AsSunnah sebagaimana dipahami dan diamalkan para pendahulu ummat ini yang shalih (AsSalafush Sholih).
Tujuannya adalah :
1. Terciptanya keluarga sakinah; yang di dalamnya semua hak dan kewajiban tertunaikan dengan sebaik-baiknya
2. Terbentuknya generasi penerus yang bertauhid, berpegang kepada sunnah, berakhlaq mulia, berbadan sehat, multi-cerdas, kreatif dan mandiri serta memiliki semangat untuk membela Islam dan kaum muslimin
SUBYEK IHS
IHS PERMATA HATI dimaksudkan bagi anak usia 0 - 13 tahun secara umum. Atau sampai anak berusia 16 tahun bagi orangtua yang memiliki kemampuan mengajarkan gramatika Bahasa Arab (kitab gundul) dan ilmu-ilmu syar’i tingkat menengah. Adapun setelah anak memasuki usia baligh maka anak harus diarahkan untuk melakukan rihlah ilmiyyah guna menimba ilmu dari para ulama, jika hal itu memungkinkan (dan memang harus diupayakan).
MENGAPA “ISLAMIC HOME-SCHOOLING” ?
Menyelenggarakan IHS membutuhkan motivasi yang luar biasa besar dari pihak orangtua. Motivasi akan muncul ketika seseorang dengan sadar dan yakin memahami alasan mengapa dia melakukan sesuatu. Maka kita dituntut untuk memiliki prinsip.
Ada beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan prinsip dalam menyelenggarakan IHS :
1. Pertimbangan syar’i. Dalam syari’at, kewajiban mendidik anak adalah tanggung jawab orangtua.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim : 6)
“Setiap anak yang dilahirkan berada di atas fithroh (Islam), maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia yahudi atau nasrani atau majusi.” (HSR. Malik, Ahmad, AlBukhori, Muslim, Abu Daud, AtTirmidzi)
2. Pertimbangan fakta sejarah. Banyak kisah dalam AlQuran yang menggambarkan peran orangtua dalam mengasuh dan mendidik anak-anak mereka. (Baca : Qs. Maryam 54-55, QS. Luqman : 13) Interaksi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan cucu beliau, Hasan dan Husain, atau dengan sepupu beliau, Ibnu Abbas, atau dengan putera asuhnya yang berkhidmat kepada beliau, Anas bin Malik juga dapat kita jadikan referensi. Dari kalangan ulama Islam, tercatat misalnya Ibnul jauzi yang menulis kitab khusus untuk puteranya yang berisi petunjuk menuntut ilmu secara lengkap, Laftatul kabid fi nashihatil walad (Kitab ini patut menjadi rujukan dalam IHS).
3. Pertimbangan naturalitas. Perhatikanlah, anak ayam belajar tentang hidup kepada induknya. Anak kucing belajar tentang hidup kepada induknya. Bayi ikan paus belajar tentang hidup berpuluh tahun pada induknya. Tapi lihatlah si ujang dan si nyai. Kepada siapa mereka belajar tentang hidup ? Ah kasihan sekali, mereka belajar tentang hidup kepada orang lain yang tidak benar-benar mengenalnya !
4. Pertimbangan orisinalitas dan individualitas anak. Orisinalitas (keaslian) seorang anak adalah : fithroh, keingintahuan dan kreatifitasnya. Sedangkan individualitas (ke-diri-an), meliputi qolb dan jasad (contoh yang jelas : sidik jari, suara dan DNA). Orisinalitas dan individualitas menyebabkan tiap anak unik dalam segala hal, termasuk cara belajar mereka. Agar mereka dapat menemukan cara belajar mereka yang unik, anak wajib mendapatkan kebebasan. [4]
DARI MANA KITA MEMULAI ?
a. Tash-hihun Niyyah (memperbaiki niat)
Mendidik diri dan keluarga adalah ibadah. Ada dua rukun ibadah, salah satunya adalah niat yang ikhlash. Rukun yang lain : muwaafaqotusy-syar’i, yakni cocok dengan aturan syari’at. Jika salah satu rukunnya rusak maka amal akan menjadi sia-sia.
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia, Maka kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir (terjauhkan dari rahmat Allah) QS. AlIsra: 18
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. Huud : 15-16)
Niatkan ber-IHS dalam rangka menjalankan kewajiban syar’i dengan mengharap keridhoan Allah dan jannah-Nya.
b. Bagi yang masih lajang dan berniat ber-IHS, maka berhati-hatilah memilih calon ibu/ayah dari anak anda. Tetapkan pilihan Anda itu di atas dasar Din. Jangan silau dengan penampilan zhahir.
c. Keluarga sakinah sebagai prasyarat
Salah satu keuntungan ber-IHS adalah kita memiliki kemauan kuat dan terprogram untuk mewujudkan Keluarga Sakinah. Hal yang mungkin terabaikan jika kita melempar tanggung jawab mendidik anak (usia 0-13 thn) kepada orang lain. Alasannya sederhana. Saat kita memutuskan ber-IHS, kita ingin suasana lingkungan rumah tertata se-Islami mungkin. Kita takut anak kita mendapat pengaruh buruk dari kebiasaan buruk kita selaku orang tua. Maka selalu ada upaya untuk memperbaiki diri dan keluarga.
Apa itu Keluarga Sakinah ? Definisi yang paling teknis adalah : Keluarga yang di dalamnya, semua hak dan kewajiban tertunaikan dengan baik. Syaikh Muhammad Bin Sholih Al-Utsaimin dalam kitabnya, “Huququn da’at ilaihal fithroh wa qorrorot-hasy syari’ah”, menerangkan 10 hak yang wajib ditunaikan, yakni : Hak-hak Allah, hak-hak Nabi, hak-hak orangtua, hak-hak anak, hak-hak kerabat, hak-hak suami-istri, hak-hak pemimpin dan rakyat, hak-hak tetangga, hak-hak kaum muslim secara umum, hak-hak non muslim.
Semua hak ini wajib dipelajari secara rinci agar bisa ditunaikan dengan benar dan sempurna. Langkah pertama adalah mempelajari. Langkah kedua menerapkannya. Langkah ketiga terus-menerus mengevaluasi sisi mana yang belum tertunaikan. Mewujudkan keluarga sakinah menjadi bukan khayalan lagi, melainkan kesungguh-sungguhan yang berkesinambungan.
d. Dengan sepenuh hati menyukai anak anda. Senang bersamanya, sedih berpisah darinya. IHS menuntut komitmen total dari orangtua, khususnya ibu. IHS bukan sekedar memindahkan belajar dari sekolah ke rumah melainkan sebuah pola interaksi ideal orangtua-anak yang dibalut kehangatan dan kelembutan.
e. Menjaga rumah dari syetan
Kita adalah ‘keluarga besar’ Nabi Adam ‘alaihis salam. Apa yang menimpa beliau bersama isterinya, Hawa, adalah bagian dari sejarah dan hidup kita hari ini. Adam adalah bapak kita dan Hawa adalah ibu kita, dan kita mengetahui apa yang telah menimpa mereka diakibatkan kedengkian iblis. Membaca ulang kisah awal penciptaan manusia akan membantu kita memahami - atau tepatnya : selalu tersadarkan - tentang asas pendidikan Islami yang sebenarnya. Maka kenalilah iblis dan tipu dayanya lalu jadikanlah dia musuh untuk diperangi.
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka jadikalah ia musuh(mu), Karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu Hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir : 6)
Beberapa kiat menjaga rumah dari syetan :
1. Perbanyak melakukan sholat di rumah [5] , 2. Perbanyak membaca Al Quran di rumah, 3. Biasakan dzikir pagi dan sore, 4. Jaga adab-adab di rumah yang di dalamnya ada bacaan-bacaan yang disyari’atkan, 5. Bersihkan rumah dari gambar atau bentuk-bentuk salib, 6. Bersihkan rumah dari gambar-gambar hewan dan manusia, 7. Bersihkan rumah dari patung hewan dan manusia, 8. Bersihkan rumah dari suara lonceng, 9. Bersihkan rumah dari suara musik, 10. Jangan biarkan anjing berkeliaran di sekitar rumah. 11. Bersihkan rumah dari kemungkaran.
f. Menciptakan lingkungan rumah yang kondusif : aman, sehat serta penuh daya-rangsang terhadap kreatifitasnya
Tentang kriteria aman, sehat dan penuh daya rangsang dapat dipelajari lebih lanjut dari beragai referensi. Hanya saja ada 2 prinsip yang perlu dicatat :
Pertama, lebih baik membatasi lingkungan daripada membatasi anak. Kedua, kurangi aturan (omelan-omelan) dengan cara menetapkan tempat tertentu untuk barang tertentu kemudian beri label dan tempel aturan singkat yang jelas dan dapat dibaca anak.
g. Memiliki kemauan keras untuk mempelajari baca tulis AlQuran dan ilmu-ilmu syar’i tingkat dasar
Dapat dikatakan bahwa materi pelajaran inti yang wajib diajarkan kepada anak usia s/d 13 tahun (usia ibtida-iyyah) adalah apa yang juga wajib diketahui semua muslim dan muslimah. Maka tidak ada alasan untuk menghindari kewajiban mempelajarinya, walaupun sekiranya kita tidak memiliki anak. Apalagi jika kita memiliki anak. Jelaslah ber-IHS merupakan peluang emas bagi kita untuk meningkatkan kwalitas keislaman kita.
h. Mempelajari keterampilan mendidik dengan cinta
Peran orangtua dalam mendidik anak persis seperti petani yang menanam padi di sawah. Yang harus dikerjakan dan selalu diperhatikan ada 5 hal :
1. Mempelajari ilmu tentang bercocok tanam (poin g dan h)
2. Memilih benih yang unggul (poin b)
3. Mempersiapkan lahan dengan mencangkul dan membajak (a, d, c dan f)
4. Memberikan nutrisi yang cukup : air dan pupuk
5. Menjaga dari hama (poin e)
Selanjutnya petani tidak ikut campur lagi. Bagaimana benih padi itu akan tumbuh, berapa lama berbiji dan menghasilkan biji seberapa banyak adalah merupakan ketentuan Allah. Petani tidak boleh dan memang tidak bisa intervensi. Petani sudah berusaha maksimal. Dia akan mendapatkan pahala di sisi Allah, jika amalnya itu ikhlash dan sesuai dengan syari’at.
Semuanya sudah dijelaskan kecuali nomor 4, memberikan nutrisi. Nutrisi dalam mendidik adalah : Rasa hormat yang tulus pada anak, Penuh pengertian, Peka terhadap masalah dan kebutuhannya, Menerima apa adanya dengan lapang dada. Jika menggunakan kosakata populer : Respek, Empati, Sensitif dan Penerimaan (dapat disingkat RESeP).
APA YANG HARUS DIAJARKAN ?
Untuk matapelajaran umum dapat mengacu pada kurikulum Diknas. Bisa juga menetapkan sendiri. Menjadikan hidup sebagai kurikulum, tidak ada yang melarang.
Penting untuk selalu diingat : bahwa cara dan pola pendekatan Home-Schooling dalam menyampaikan materi pelajaran murni berbeda dengan di sekolah. Dalam Home-Schooling yang ditekankan adalah memilih cara berinteraksi dan berkomunikasi yang tepat serta khas antara orangtua dan anak.
Orangtua dituntut kreatif dalam memilih metode dan media yang membuat interaksi menjadi hangat dan akrab. Jadikan proses belajar sebagai proses alamiah hubungan orangtua-anak (seperti halnya melahirkan, menyusui dan memberi makan). Semua momen interaksi orangtua-anak adalah belajar. Jadi dalam Home-Schooling anda bisa gunakan waktu kapanpun - jika dianggap tepat - untuk memberikan penguatan-penguatan pada salah satu materi yang menurut anda perlu diperkuat.
Materi Diniyyah yang diajarkan di IHS PERMATA HATI, secara garis besar meliputi :
A. Tarbiyah Syakhshiyyah (Pembinaan Karakter)
B. Tahfizhul Quran
C. Tahfizhul Ahaadits
B. ‘Ulum Syar’iyyah (Ilmu-ilmu Syar’i) : Aqidah, Manhaj, Fiqh, Tafsir, Akhlaq, Tarikh
C. Bahasa Arab
MENEPIS KERAGUAN
· Keraguan Pertama : “Aku tidak bisa menghadapi anak !”
Jawaban : Kala anda memutuskan untuk menikah, apakah tidak terpikirkan bakal memiliki anak ? Mempelajari keterampilan mengasuh dan mendidik anak adalah konsekwensi yang harus anda pikul dari keputusan yang anda ambil itu. Kecuali anda seorang egois yang hanya memikirkan kesenangan pribadi dari sebuah pernikahan ! Perhatikanlah, banyak orang yang mempelajari keterampilan seksual dengan cara membeli banyak buku referensi atau berkonsultasi kepada pakar seks, meski keterampilan tersebut amat sangat bersifat primitif dan - maaf - menjijikan kala dibuka di depan publik. Mengapa anda kalah oleh mereka. Anda bisa bersaing dengan mereka dengan mempelajari keterampilan yang jauh lebih penting, yakni keterampilan mendidik anak. Banyak wanita khawatir penampilannya tidak lagi menarik di hadapan suami lalu berusaha keras dengan berbagai cara. Tapi amat sedikit yang khawatir kalau penampilannya tidak lagi menarik di hadapan anak-anaknya sehingga tidak melakukan apapun untuk mereka. Ah, tragis sekali !
· Keraguan kedua : “Aku bukan ustadz !”
Jawaban : Ini sudah dijelaskan, bahwa materi pelajaran inti yang wajib diajarkan kepada anak usia s/d 13 tahun (usia ibtidaiyyah) adalah apa yang juga wajib (fardhu ‘ain) diketahui setiap muslim dan muslimah. Maka tidak ada alasan untuk menghindari kewajiban mempelajarinya, walaupun sekiranya kita tidak memiliki anak. Apalagi jika kita memiliki anak. Anda bisa bertanya pada diri sendiri : “Apakah kalau aku tidak ber-IHS, aku bebas dari kewajiban mempelajarinya ?”.
· Keraguan ketiga : Seorang ibu barangkali berkata : “Kalau aku secara total harus mengurus anak, bagaimana aku bisa mengembangkan diri ?”
Jawaban : Saya ingin menepis keraguan ini dengan menukil beberapa kalimat yang ditulis seorang wanita barat yang beragama nasrani, agar kaum muslimat - yang telah dijaga kehormatan dirinya oleh Allah dengan hijab - dapat merenungkannya (semoga kesimpulan mereka sama dengan saya, bahwa kalimat-kalimat ini lebih layak diucapkan oleh seorang muslimah yang berhijab) :
“Dalam budaya Barat, terbebas dari tanggung jawab mengasuh anak seringkali dipandang sebagai cara terbaik dan satu-satunya cara bagi seorang ibu untuk mengembangkan diri. Saya tidak setuju sama sekali dengan pandangan seperti itu. Waktu yang saya habiskan di rumah, bermain dan belajar bersama anak-anak, adalah masa paling produktif dalam hidup saya. Saya serius!”. (Marty Layne, Ibuku Guruku, hal. 26) Selanjutnya dia berkata di hal. 364 : “Sebenarnya hanya dengan benar-benar merawat dan mengasuh anaklah kita belajar bagaimana menjadi ibu.” . Lanjutnya lagi, masih di hal. 364 : “Mari kita lihat sebagian cara untuk mengembangkan kehidupan yang tidak mengharuskan pemisahan dari anak-anak kita.”
Kemudian dia memberikan contoh : membaca, merajut, membuat karya tulis atau berolah raga ringan !
MEMETIK MANFAAT
Apa manfaat menjalankan IHS ? Kalau saja tidak ada manfaat lain dari IHS selain pahala dari sisi Allah atas upaya kita menunaikan peran dan kewajiban selaku suami/istri dan atau ayah/ibu secara maksimal dan optimal, maka bagi seorang mukmin hal itu sudah cukup. Tapi ada banyak manfaat lain yang semuanya sudah disinggung pada penjelasan yang terdahulu. Semoga bermanfaat.
Karawang, 28 Shafar 1428 H/18 Maret 2007
———————————————————-
[1] Contoh kecil : Menurut keterangan Direktur Bank Mu’amalat Indonesia, bahwa panjang pantai Indonesia adalah 88.000 km sehingga menempatkan Indonesia termasuk 10 negara berpantai terpanjang di dunia. Ironisnya, kita masih mengimpor 1,5 juta ton garam per tahun !
[2] “Your child can think like a genius, How to unlock the gifts in every child”, karya Bernadette Tynan, presiden Beautiful Minds, sebuah lembaga amal yang didirikan untuk mendanai penelitian-penelitian yang bertujuan mengembangkan bakat alami anak-anak, mantan dosen senior pada Research Centre for Able Children di Oxford. (Diterjemahkan dengan judul : “Melatih anak berpikir seperti jenius, Menemukan dan mengembangkan bakat yang ada pada setiap anak”, Penerbit Gramedia). Inti buku itu adalah memperkenalkan : Thumb Print Learning, yakni : cara belajar seunik sidik jari.
[3] Belajar secara mulaazamah kepada masyayikh, sebagaimana dijalankan para salafus sholih berabad-abad lamanya, memberikan banyak kebebasan kepada siswa untuk menentukan matapelajaran apa yang akan dipelajari dan bagaimana dia mengembangkannya. Sehingga para siswa memiliki kesempatan yang luas untuk menemukan sendiri cara belajarnya yang unik. Allaahu a’lam.
[4] Bebas adalah keadaan seseorang ketika melakukan sesuatu dengan senang hati dan atas pilihannya sendiri. Mukmin, ketika melakukan ketaatan (menunaikan perintah Allah dan menjauhi laranganNya) melakukannya dengan senang hati dan berdasarkan pilihannya sendiri, bukan karena tekanan. Maka mukmin adalah orang yang sungguh-sungguh bebas dalam makna yang hakiki. Munafiq adalah orang yang sungguh-sungguh terbelenggu jiwanya. Kafir juga bebas, tetapi kebebasannya bersifat maya (semu), karena secara internal dia sedang berperang dengan fithrohnya dan terbelenggu oleh hawa-nafsunya, serta berada di bawah ancaman azab. Dari definisi ini, dapat disimpulkan bahwa peran orangtua adalah ‘menanamkan’ pemahaman yang benar tentang kebaikan dan keburukan ke dalam pikiran anak, sehingga nanti anak bertindak berdasarkan pemahaman, bukan karena paksaan dari luar. Proses menanam ini harus dilakukan dengan dengan : ikhlash, berkesinambungan, multi-metode serta pendekatan lembut dan penuh kesabaran. Tidak ada batasan waktu tertentu yang diperlukan untuk proses ini. Nabi Nuh ‘alaihi salam tinggal bersama kaumnya selama 950 th, berdakwah siang malam (kesinambungan), dengan i’lan dan isror (multi-metode). Tidak dapat dikatakan gagal, hanya karena sedikit yang mengikutinya. Tidak ada kata GAGAL dalam kamus mendidik, jika sudah dilakukan dengan benar. Kita bertanggung jawab pada proses bukan pada hasil ! Menemukan cara yang pas untuk menanamkan pemahaman yang benar pada pikiran anak adalah sebuah seni mendidik yang amat indah! Selebihnya adalah kesiapan kita untuk memberi tempo yang cukup kepadanya untuk tumbuh dan berkembang.
[5] Pria dewasa wajib sholat fardhu di masjid. Jadi yang dimaksud bagi mereka adalah memperbanyak sholat-sholat sunnah di rumah.
—————————————————–
Dari makalah yang diposting Bapak Fatkhurohman di milis asahpenaindonesia. Sangat memberi pencerahan buat saya pribadi. Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai komunitas Permata Hati, bisa menghubungi :
Permata Hati (Perhimpunan Orangtua Pemerhati Islam) Perumnas Bumi Teluk Jambe Blok S No. 238 Karawang
telp: 0267-8456046, direct 081381149700 (Fatkhurohman)
Posted at 08:21 pm by ummu_hanief
Permalink
Feb 12, 2009
Metode Hafalan untuk BALITA
Sejarah Metode Isyarat
Metode pengajaran hafalan Al Quran untuk balita dengan menggunakan isyarat tangan diciptakan oleh Sayyid Muhammad Mahdi Tabatabai ketika mengajari anaknya, Sayyid Muhammad Husain Tabatabai yang saat itu baru berusia 2 tahun 4 bulan. Berikut ini penuturan M. Tabatabai mengenai sejarah penemuan metode isyarat itu (1).
***
Saya mulai mengajarkan hafalan Al Quran kepada Husain ketika dia berusia 2 tahun 4 bulan. Pada saat itu, Husain sudah menghafal juz ke-30 (juz’amma) secara otodidak, hasil dari rutinitasnya dalam mengikuti aktivitas ibunya yang menjadi penghafal dan pengajar Al Quran, serta aktivitas kakak-kakaknya dalam mengulang-ulang hafalan mereka.
Saya mulai dengan mengajarkan hafalan juz ke-29. Setelah Husain berhasil menghafal juz ke-29, saya mulai mengajarinya hafalan juz pertama. Awalnya, saya menggunakan metode biasa, yaitu dengan membacakan ayat-ayat yang harus dihafal, biasanya setengah halaman dalam sehari dan setiap pekan, jumlah hafalan pun ditingkatkan.
Namun, pada saat itulah saya menyadari bahwa metode seperti ini memiliki dua persoalan, yaitu sbb:
- Ketidakmampuan Husain untuk membaca Al Quran, membuatnya sangat tergantung kepada saya dalam usaha mengulang-ulang ayat-ayat yang sudah dihafal.
- Metode penghafalan Al Quran secara konvensional ini sangat kering dan tidak cocok bagi psikologis anak usia balita. Selain itu, betapapun saya berusaha memahamkan kepada Husain makna ayat-ayat itu, dia tidak bisa memahaminya dengan baik karena banyak konsep-konsep yang abstrak yang sulit dipahami anak balita.
Untuk menyelesaikan persoalan pertama, saya mulai mengajarinya membaca Al Quran, agar dia bisa mengecek sendiri hafalannya.
Untuk menyelesaikan persoalan kedua, saya terpikir untuk mengajarkan makna ayat-ayat Quran itu dengan isyarat tangan.
Makna suatu ayat secara keseluruhan saya jelaskan dengan bahasa sederhana kepada Husain, lalu ketika mengucapkan ayat itu, saya melakukan gerakan-gerakan tangan yang mengisyaratkan makna ayat itu.
Misal:
- Allah –> tangan menunjuk ke atas,
- yuhibbu (mencintai) –> tangan seperti memeluk sesuatu,
- sulh (berdamai) –> dua tangan saling berpegangan.
Metode isyarat ini ternyata semakin hari, semakin menarik perhatian Husain. Setelah beberapa waktu, saya sadari bahwa ketika saya membuat isyarat dengan tangan atas suatu ayat, Husain dengan cepat mengucapkan ayat yang saya maksudkan itu. Metode ini sedemikian berpengaruhnya pada kemajuan perkembangan Husain sehingga dengan mudah dia mampu menerjemahkan ayat-ayat itu (ke dalam bahasa Persia, bahasa sehari-hari orang Iran ) dan mampu menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.
********** Catatan:
1. dikutip dari buku berjudul Hafezan-e Nur (Para Penyimpan Cahaya), karya Dawud Qasemi, thn 2003, Jamiatul Quranul Karim, Qom, Iran.
2. Metode isyarat ini kemudian diadaptasi dan disesuaikan dengan kultur Indonesia oleh team Rumah Qurani yang berpusat di Bandung. Mudah-mudahan suatu saat kelak bisa diterapkan di berbagai sekolah Al Quran di Indonesia.
taken from :learningathome.com
Posted at 09:38 pm by ummu_hanief
Permalink
Jan 30, 2009
Bangga Menjadi Ibu Rumah Tangga
Penulis: Ummu Ayyub Muroja'ah: Ust Abu Ahmad
Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti itukah?
Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita 'menunjukkan eksistensi diri' di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.
Kita bisa dapati ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama "Sekarang kerja dimana?" rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk "Saya adalah ibu rumah tangga". Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang menanyakan itu "sukses" berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia harus berhadapan dengan "nasehat" dari bapak tercintanya: "Putriku! Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja ngurus suami dan anak." Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.
Ibu Sebagai Seorang Pendidik
Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah subhanahu wa ta'ala yang artinya:
"Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (QS. Al-Ahzab: 33)
Pertumbuhan generasi suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar, mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi. Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran untuk membiasakannya.
Sebuah Tanggung Jawab
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At Tahrim: 6)
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang artinya: "Peliharalah dirimu dan keluargamu!" di atas menggunakan Fi'il Amr (kata kerja perintah) yang menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari bahaya api neraka.
Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata, "Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu." (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)
Muqatil mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.
Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya." (QS. Al Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu." (QS. At Tahrim: 6)
Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya, lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa, sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.
Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta'ala yang artinya:
"dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat." (QS asy Syu'ara': 214)
Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Kaum lelaki adalah pemimpin bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya. Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari 2/91)
Dari keterangan di atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.
Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih
Bagaimana hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita yang usia 5 tahun mulai menumpuk, "Mau untuk apa nak, tabungannya?" Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab "Mau buat beli CD murotal, Mi!" padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab "Mau buat beli PS!" Atau ketika ditanya tentang cita-cita, "Adek pengen jadi ulama!" Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak seusianya bermimpi "pengen jadi Superman!"
Jiwa seperti ini bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten. Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Lalu… jika seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai para ibu -atau calon ibu-?
Setelah kita memahami besarnya peran dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh! sangat jauh perbandingannya.
Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka. Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!
Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.
Ketika usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan anak-anak mereka?
Ketika malaikat maut telah datang, ketika jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena pintu amal telah ditutup, siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak pernah mengajari anak-anak kita?
Lalu…
Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata 'cuma'? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?
Wallahu a'lam
Maroji':
- Dapatkan Hak-Hakmu, Wahai Muslimah oleh Ummu Salamah as Salafiyyah. Judul asli: Al-Intishaar li Huquuqil Mu'minaat
- Mendidik Anak bersama Nabi oleh Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid. Judul Asli: Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl
- Majalah Al Furqon Edisi: 8 Tahun V/Rabi'ul Awwal 1427/April 2006
***
taken from -->www.muslimah.or.id
Posted at 02:19 pm by ummu_hanief
Permalink
Kak Seto: Fatwa Merokok Haram, Harus Diikuti Regulasi yang Jelas
Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi mencatat, jumlah anak-anak yang menjadi korban rokok sudah semakin banyak, bahkan angkanya naik empat kali lipat yakni dari 0,5 persen naik menjadi 2 persen, jumlah tersebut belum termasuk remaja. Meski demikian, Kak Seto tidak menyebutkan jumlah secara keseluruhan anak yang menjadi korban rokok tersebut.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan rokok bagi anak, ibu hamil dan di tempat umum, menurutnya, seharusnya diikuti dengan aturan atau regulasi dari pemerintah mengenai penjualan rokok dan meniadakan iklannya.
"Fatwa MUI saja tidak cukup untuk menurunkan bahaya rokok bagi anak, ibu hamil dan perokok pasif. Sebaiknya, pemerintah mengeluarkan regulasi yang jelas tentang rokok itu," kata Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi atau biasa disapa Kak Seto, usai menjadi pembicara seminar pendidikan anak di Serang, Kamis.
Fatwa MUI tersebut, lanjut Kak Seto harus dihargai sebagai salah satu upaya perlindungan dan penyelamatan terhadap anak dan remaja sebagai generasi bangsa dari bahaya merokok itu sendiri, selain itu mereka juga menjadi korban asap rokok dari para perokok lainnya atau perokok pasif.
"Selama ini kebanyakan anak-anak hanya menjadi korban perokok, bukan sebagai pelaku. Untuk itu, sebaiknya iklan-iklan rokok dilarang secara total," kata dia.
Selain itu, Ia menambahkan, untuk mencegah peredaran atau penjualan rokok tersebut, seharusnya pemerintah mengeluarkan regulasi atau aturan yang jelas, daerah-daerah mana atau wilayah mana saja yang tidak boleh sembarangan menjual rokok.
"Tidak kalah pentingnKetua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi mencatat, jumlah anak-anak yang menjadi korban rokok sudah semakin banyak, bahkan angkanya naik empat kali lipat yakni dari 0,5 persen naik menjadi 2 persen, jumlah tersebut belum termasuk remaja. Meski demikian, Kak Seto tidak menyebutkan jumlah secara keseluruhan anak yang menjadi korban rokok tersebut.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan rokok bagi anak, ibu hamil dan di tempat umum, menurutnya, seharusnya diikuti dengan aturan atau regulasi dari pemerintah mengenai penjualan rokok dan meniadakan iklannya.
"Fatwa MUI saja tidak cukup untuk menurunkan bahaya rokok bagi anak, ibu hamil dan perokok pasif. Sebaiknya, pemerintah mengeluarkan regulasi yang jelas tentang rokok itu," kata Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi atau biasa disapa Kak Seto, usai menjadi pembicara seminar pendidikan anak di Serang, Kamis.
Fatwa MUI tersebut, lanjut Kak Seto harus dihargai sebagai salah satu upaya perlindungan dan penyelamatan terhadap anak dan remaja sebagai generasi bangsa dari bahaya merokok itu sendiri, selain itu mereka juga menjadi korban asap rokok dari para perokok lainnya atau perokok pasif.
"Selama ini kebanyakan anak-anak hanya menjadi korban perokok, bukan sebagai pelaku. Untuk itu, sebaiknya iklan-iklan rokok dilarang secara total," kata dia.
Selain itu, Ia menambahkan, untuk mencegah peredaran atau penjualan rokok tersebut, seharusnya pemerintah mengeluarkan regulasi atau aturan yang jelas, daerah-daerah mana atau wilayah mana saja yang tidak boleh sembarangan menjual rokok.
"Tidak kalah pentingnya adalah peranan orang tua dalam mengawasi anak-anaknya dari bahaya rokok. Begitu juga bahaya merokok bagi ibu hamil sudah jelas," katanya.
Fatwa merokok haram yang dikeluarkan oleh MUI mendapat sambutan positif dari Pemerintah Provinsi Banten, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Provinsi Banten, Hari Parwanto mengatakan, saat ini Pemerintah Provinsi Banten sedang menunggu penandatangan MoU kerjasama antara pemerintah dan perusahaan jasa di Banten mengenai Perda larangan merokok di tempat-tempat umum.
"Langkah pertama MoU dengan PT Angkasa Pura, yakni larangan merokok ditempat-tempat tertentu di Bandara Soekarno Hatta dengan payung hukum Peraturan Daerah (Perda)," katanya. (novel/ant)
ya adalah peranan orang tua dalam mengawasi anak-anaknya dari bahaya rokok. Begitu juga bahaya merokok bagi ibu hamil sudah jelas," katanya.
Fatwa merokok haram yang dikeluarkan oleh MUI mendapat sambutan positif dari Pemerintah Provinsi Banten, Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Provinsi Banten, Hari Parwanto mengatakan, saat ini Pemerintah Provinsi Banten sedang menunggu penandatangan MoU kerjasama antara pemerintah dan perusahaan jasa di Banten mengenai Perda larangan merokok di tempat-tempat umum.
"Langkah pertama MoU dengan PT Angkasa Pura, yakni larangan merokok ditempat-tempat tertentu di Bandara Soekarno Hatta dengan payung hukum Peraturan Daerah (Perda)," katanya. (novel/ant)---Sumber: ERAMUSLIM.COM
Komentar: seharusnya rokok haram bagi semua, karena sudah jelas2 mudharatnya.
Posted at 09:26 am by ummu_hanief
Permalink
Jan 28, 2009
Itulah yang dilakukan seorang istri sekaligus sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya.
Itu yang saya rasakan ketika mbak-mbak yang biasanya membantu pekerjaan rumah tangga di rumah kecil kami sudah berhenti. Otomatis, semua pekerjaan rumah tangga semua saya yang mengerjakan, kecuali mencuci pakaian bargantian dengan suami. Awalnya saya agak ribet dan sedikit kacau karena belum bisa mengatur waktu antara menyelesaikan semua pekerjaan RT dan me’momong’ Hanif jundi kecil kami tercinta. Namun, perlahan dan pasti saya akhirnya bisa menyesuaikan diri dan belajar memilah pekerjaan2x mana yang harus saya selesaikan dulu(menentukan prioritas) ketika Hanif tidur dan pekerjaan yang bisa saya kerjakan sambil mengawasi Hanif bermain. Maklum, Hanif saat ini berusia 9 bulan lebih 2 mingguan, dia lagi suka ‘rembetan’ dan mulai belajar berdiri, jadi harus diawasi.
Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menyelesaikan semua pekerjaan yang prioritas2, meski kadang menyisakan pekerjaan yang lain. Seringnya sih belum nyuci pakaian. J
Tapi pada akhirnya saya bisa juga belajar banyak dari semua itu. Dan itulah tugas-tugas mulia seorang istri dan sekaligus sebagai seorang ibu. Apalagi menu makanan buat Hanif selalu fresh 3 x masak. tapi bagi saya semua itu sungguh sangat menyenangkan. Kalo masalah capek sih ya emang iya, tapi jika sudah melihat senyum ‘cute’nya Hanif dan Abinya ..he..he J semuanya jadi hilang.
Hingga, pada suatu hari libur yang panjang, suami melihat semua pekerjaan yang saya lakukan. Dia putuskan untuk mengambil pembantu lagi untuk menyelesaikan semua pekerjaan RT kecuali memasak. alas an suami kasian, capek, dan waktu untuk bersama-sama porsinya jadi berkurang. Saya sih menurut saja. Saya hanya merasakan bahwa, semua itu bukan sebuah beban, atau keterpakasaan karena saya melakukannya dengan cinta. Itulah kekuatan cinta, bisa mengalahkan segala keletihan. Rasa capek itu memang ada, tapi jika dilakukan dengan keikhlasan dan penuh rasa cinta semuanya jadi mudah, justru saya menemukan kepuasan. Meski sekarang sudah ada yang bantuin lagi, saya masih tetap semangat untuk berkarya di rumah sendiri, baik by internet maupun yang lainnya. Semoga cinta-cinta yang ada semakin member kekuatan ruh kebaikan di keluarga kami. Amin. J
Posted at 09:31 am by ummu_hanief
Permalink
Dec 16, 2008
Namanya Isyah yang shalihah (amin…)
Yah, saya menyebutnya begitu karena dia adalah akhwat salaf kecil yang subhaanalloh saya sangat terpukau dibuatnya.
Awalnya dari ketika saya dan suami menghadiri kajian salafi di bilangan BNI 46. Sudah lama kami tidak menghadiri ta’lim karena saya melahirkan di Jogja dan suami juga PJKA (pulang jum’at kembali ahad) selama 6 bulan.
Ketika menghadiri ta’lim di I’tishom kemaren saya sudah membawa jundi kecil yang waktu itu merangkaknya belum begitu lancar. Saya masuk lewat pintu khusus akhwat. Wah..ternyata yang hadir banyak banget. Dalam hati saya “tumben banget, jama’ahnya buanyak banget” ternyata ustadznya As sawed dari Bogor. Pantessssssss
Cerita ini bermula ketika saya sudah duduk di dalam dan bersebelahan dengan Ummahat. Saya pun menyapanya. Kajian belum dimulai, dan si kecil Hanif masih tertidur pulas lalu saya tidurkan beralaskan gendongan. Gak berapa lama Hanif terbangun, kirain mau nangis ternyata malah ketawa. Matanya melihat kamana-mana. “ini di mana ya Ummi..?” begitu mungkin dalam benak Hanif. Iya kan dhe’? ^_^
Tidak selang berapa lama, masuk dua anak kecil berpakaian hitam-hitam tanpa niqob(cadar) eh, saya kira Umminya di belakangnya, ternyata selidik punya selidik mereka hanya berdua dengan Abinya. Wuits, subhaanalloh. Saya berdecak kagum. Mereka langsung duduk rapi berdampingan. Sang kakak yang tentunya lebih gede, terlihat membuatkan susu yang dimasukin ke dalam dot buat adiknya. Eh ternyata yang kecil masih ngedot, berarti belum sekolah TK dong. Subhaanallloh, saya semakin berdecak kagum. Saya perhatikan dua anak ini memang beda dengan anak-anak kecil seusianya, tampak dewasa dan tidak kolokan alias manja. Apalagi yang gede, terlihat sangat dewasa sekali. Ketika saya Tanya namanya, dia menjawab “Isyah” . saya perhatikan pakaian keduanya benar2 sudah menutup aurat meski tak pakai kaus kaki, pakaian hitam dan kerudung besar juga berwarna hitam. Tidak bisa dilukiskan dengan kata2 kakaguman saya ketika itu. Sayang, Umminya tidak ikut sehingga saya tidak bisa berkenalan dengannya untuk meminta ilmu padanya.
Selama ta’lim berlangsung yang gede ga banyak cakap atau banyak main, yang kecilpun tidur tanpa pake rewel. Ahh…saya jadi termotivasi, saya harus bisa menjadikan anak-anak saya seperti mereka atau bahkan lebih. Anak-anak yang kuat dalam keadaan apapun, anak-anak yang selalu mencintai ilmu dan gemar menuntut ilmu.
Ketika pulang, saya berjalan dengan Abinya Hanif untuk mencari taksi. Si akhwat kecil lewat, dia melemparkan senyum manisnya pada saya. Ah, Isyah, saya jadi rindu padanya, akhwat kecil yang shalihah (amin…). Semoga ta’lim berikutnya saya bisa berjumpa dengan Ummimu sehingga saya bisa berguru padanya.
Posted at 12:57 pm by ummu_hanief
Permalink
|